TARBIYAH MASA KECIL KAUM SALAF

Salah satu faktor bagi baiknya generasi  awal (baca:salaf) adalah pendidikan. Sejak dini, mereka telah mendidik putra-putrinya berdisiplin dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. Tak mengherankan jika kemudian Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an pada usia 7 tahun. Dan masih banyak lagi contoh lain. Umat Islam saat ini juga mampu mencetak generasi tangguh dalam ilmu dan amalnya jika meneladani bagaimana para salaf mendidik putra putrinya sejak kecil. Benarlah kata Imam Malik Rahimahullah: “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah baik pada generasi awalnya. “ Tulisan Berikut mengetengahkan beberapa fenomena dan teladan pendidikan kaum salaf kepada anak-anaknya di usia dini.

Penanaman Kalimat Tauhid

Sejarah mencatat, anak kecil pertama yang masuk Islam adalah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ketika itu usia beliau belum genap sepuluh tahun. Tetapi begitulah Nabi  shallallahu ‘alahi wa sallam sebagai murabbi terbesar, pemimpin sekaligus teladan umat telah meletakkan satu uswah dalam dunia pendidikan. Beliau mengajak  Ali bin Abi Thalib  kecil beriman kepada risalah yang beliau bawa, risalah tauhid Laa ilaaha illallaah Muhammadurr Rasulullah. Maka berimanlah Ali radhiallahu ‘anhu, bahkan dengan rajinnya beliau mengikuti  Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi di lorong-lorong kota Makkah.

Kisah lain,Ibnu Dzufr Al Makky meriwayatkan, ketika Abu Sulaiman Dawud bin Nushair Ath Tha’i berusia lima tahun,oleh bapaknya ia sudah di serahkan kepada seorang pendidik. Mulailah ia diajar menghafal dan memahami Al-Qur’an. Setelah mempelajari dan menghafal surat Al-Insan,suatu kali di hari Jum’at, ibunya memergokinya sedang memandangi dinding seraya menunjuk-nunjuk dinding tersebut.Ibunya takut kalau pikiran anaknya berubah, maka ibunya menegur: “Hai Dawud,pergilah bermain bersama teman-temanmu.”Tetapi ia tidak menjawab.Ibunya pun histeris. Anak itu kaget dan berkata:”Wahai ibu, ada apa?” Ibunya menjawab:”Kemana pikiranmu?” Ia menjawab:“Bersama hamba Allah.”Ibunya bertanya:”Di mana mereka?” Ia menjawab: “Di Surga.” Ibunya bertanya: “Sedang apa mereka?” Ia menjawab dengan membacakan ayat: “Di dalamnya mereka duduk bertelekan diatas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya)matahari dan tidak pula dingin yang bersengatan.” (QS-Surat Al-Insan:13).

Kemudian ia baca pula ayat-ayat seterusnya sambil seolah-olah mengangankan sesuatu, hingga akhirnya sampai pada firman Allah: “Dan adalah usahamu disyukuri (di beri balasan).”(QS-Al-Insan: 22).

Kemudian ia bertanya: “Wahai ibu, apa usaha mereka itu?” Ibunya tidak bisa menjawab, hingga ia berkata: “ Tinggalkanlah aku ibu,supaya aku bisa merenungkan diri sesaat bersama mereka.” Maka bangunlah ibuya dan menyerahkan perkara Dawud kepada ayahnya. Maka ayahnya berkata: “Hai Dawud, usaha mereka adalah mengucapkan laa ilaaha illallaah.” Sejak itu beliau rahimahullah yang ketika itu masih kecil selalu mengulang-ulang kalimat syahadatain tersebut.

Penanaman Cinta dan Tawakkal kepada Allah

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu meriwayatkan: “ Suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: ‘Hai anak, aku akan mengajarkan kepadamu kalimat,(artinya)Jagalah Allah niscaya Dia menjagamu,jagalah Allah niscaya kamu dapati Dia ada dihadapanmu,bila kamu meminta, mintalah kepada Allah dan bila kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya umat ini bersepakat untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, niscaya mereka tidak dapat memberimu manfaat apa-apa kecuali dengan apa yang telah Allah taqdirkan buatmu,dan seandainya mereka bersepakat untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu sedikitpun kecuali dengan apa yang Allah telah taqdirkan atasmu. Pena-pena telah terangkat dan lembar tulisan pun telah kering.’ “ (HR.At-Tirmidzi).

Penanaman Cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Banyak contoh yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bagaimana menanamkan rasa cinta kepada beliau,diantaranya:

1.Kisah masuk Islamnya Ali bin Abi Thalib di atas membuktikan hal itu.

2.Imam Ahmad, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Tsabit dari Anas radhiallahu ‘anhu (Anas radhiallahu ‘anhu saat itu berumur kurang lebih 10 tahun), ia berkata: “ Telah datang kepadaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika aku sedang bermain bersama anak-anak, maka Nabi kami kemudian mengutusku untuk keperluan yang beliau butuhkan.” Begitulah Anas bin Malik yang telah tertanam rasa cinta dalam jiwanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal ia masih anak-anak. Ia rela meninggalkan kesenangannya bermain bersama teman-teman sebayanya demi melaksanakan apa yang diminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keikutsertaan Anak-anak dalam perang Melawan Musuh Allah

Abdurrahman bin Auf menceritakan: “(Ketika terjadi perang Badar) ada seorang anak kecil berdiri disisi  kananku bertanya: ‘Wahai paman,tunjukkan padaku mana Abu Jahal?’ Saya balas bertanya: ‘Apa urusanmu dengan Abu Jahal,wahai anakku?’ Ia berkata: ’Wallahi,bila aku meliatnya aku tidak akan melepaskannya, dia adalah orang yang suka menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Kemudian datang lagi seorang anak kecil di sebelah kiri ia juga bertanya hal yang sama. Setelah itu terjadilah pertempuran sengit dan seru. Lalu saya menoleh kepada kedua anak kecil itu seraya berkata: ‘ Itulah dia orang yang sedang kalian cari, itulah Abu Jahal.’ Maka kedua anak kecil itu melompat dengan cepat dengan membawa pedang kecil masing-masing, keduanya berpacu, berebut dahulu untukmenikam musuh Allah dan RasulNya, lalu keduanya sama-sama mengayunkan senjatanya dengan kuat ke arah Abu Jahal, maka jatuhlah Abu Jahal tersungkur di tanah dan tidak bangun lagi. Selanjutnya kedua anak itu berlomba untuk memberi kabar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya masing-masing berkata: ‘ Ya Rasulullah, saya lah yang telah membunuh-nya.’ Maka beliau bersabda kepada keduanya: ‘Coba perlihatkan pedang kalian!’ Ternyata beliau melihat bekas darah pada keduanya, maka bersabdalah beliau: ‘Kalian berdua telah membunuhnya.’ (HR.Al Bukhari). Itulah bukti keberhasilan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik anak-anak.

Kecintaan Anak-anak Kecil, Sahabat, dan Salafus Shalih untuk menghafal Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Diriwayatkan dari Abi Al Haura’ As Sa’di Rabi’ah bin Syaiban,ia berkata: “Aku bertanya kepada Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma: ‘Apa yang kamu hafal dari Rasulullah?’ Al Hasan menjawab: ‘Aku hafal hadits (artinya): Tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu, maka sesungguhnya kejujuran itu tuma’ninah (tenang)dan kedustaan itu adalah kebimbangan.’” (HR.At Tirmidzi, An Nasa’i, Ahmad dengan isnad shahih, Jami’ul Ushul,6/443). Dan masih banyak kisah masa kecil para shahabat lainnya tentang hafalan mereka terhadap hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kisah yang juga tak kalah menariknya adalah masa kecil Ibnu Taimiyah, diceritakan Al Hafids Muhammad bin Ahmad dalam Al Uqud Ad Durriyah min Manaqib Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, bahwa penduduk Damsyik amat kagum terhadap kecerdasan,kekuatan hafalan serta kecepatan pemahamannya. Suatu kali ada seorang pembesar ulama dari Halab datang ke Damsyik, lalu berkata: “ Saya dengar di negeri ini ada seorang anak bernama Ibnu Taimiyah yang cepat hafalannya, saya datang kesini dengan harapan dapat melihatnya.”Kemudian ada seorang penjahit menjawab :“Inilah jalan menuju tempat belajarnya, sampai sekarang ia belum lewat. Duduklah disini sebentar,nanti ia akan lewat sini menuju tempat belajarnya.

Maka duduklah Syaikh tersebut.Tidak lama kemudian lewatlah anak yang ditunggunya. Lalu si tukang jahit berkata:“Itulah anak yang membawa sabak besar ,dialah Ahmad bin Taimiyah.” Lalu dipanggilah Ibnu Timiyah , kemudian dilihatlah sabak yang ada di tangannya, lalu Syaikh berkata:“Hapuslah tulisan yang ada di sabak ini anakku, saya akan mengimla’(dikte)kan kepadamu supaya kamu menulis sesuatu.” Setelah itu di diktekan kepada  Ibnu Taimiyah 11 atau 12 matan hadits.Kemudian berkatalah Syaikh:“Coba lihat, biar saya membacanya.” Setelah Syaikh membacanya sekali,maka diberikan kembali kepada Ibnu Taimiyah seraya berkata:“Coba kamu baca !”Maka Ibnu Taimiyah pun membacakan dengan bacaan yang amat bagus.Kemudian di perintahkannya lagi Ibnu Taimiyah untuk menghapusnya lagi dan mengimla’kannya beberapa sanad yang di pilih sendiri oleh Syaikh. Lalu Syaikh berkata: “Bacalah!” Maka Ibnu Taimiyah pun membacanya seperti apa yang dilakukan sebelumnya.Akhirnya berdirilah Syaikh seraya berkata:“Jika anak ini hidup,niscaya ia akan mempunyai kedudukan besar,karena belum pernah ada yang melihat semisalnya.”

Memberi Hadiah Kepada Anak untuk Menghafal Hadits

Disebutkan oleh Al khatib Al Baghdadi dalam kitabnya Syaraf Asbabil Hadits: “An Nadlar bin Harits menceritakan: “Saya dengar Ibrahim bin Adham berkata: “Bapakku berkata kepadaku: ‘Hai anakku, carilahhadits,maka setiap kali kamu mendengar hadits dan menghafalkannya,maka aku beri kamu hadiah satu dirham.’Maka aku pun mencari hadits atas dorongan ini.’”

Anak-anak Kecil Salaf Membantu Pekerjaan Orang dengan Meminta Upah Hadits

   Sufyan bin Unaiyah berkata:“…..maka bapak kami  membawa kami ke Makkah dan kami masuk masjid untuk shalat Zhuhur sementara aku berada di pintu masjid, tiba-tiba ada seorang syaikh yang duduk di atas keledai memanggilku:‘Hai anak, tolong jaga keledaiku ini,saya mau masuk masjid dan shalat .‘Aku menjawab:‘Aku tidak mau kecuali jika anda meriwayatkan hadits padaku.’Kemudian ia berkata:‘Apa yang kamu kerjakan dengan hadits?‘Ia menganggap aku masih kecil.Lalu aku menjawab:‘Riwayatkanlah hadits padaku!’ Kemudian ia berkata:‘Telah menceritakan kepadaku Jabir dari Abdullah,dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas….’Maka ia meriwayatkan kepadaku 8 hadits, lalu aku bersedia menjaga keledainya.

Selama akumenjaga keledainya aku menghafal hadits yang di riwayatkannya itu.Setelah beliau selesai shalat dan keluar dari masjid,beliau berkata:‘Jika hadits yang kuceritakan kepadamu bermanfaat bagimu,aku ingin menunggu di sini mendengarkanmu.’Aku menjawab:‘Anda telah menceritakan kepadaku hadits ini dan itu. ‘ Maka aku mengulangi semua apa yang beliau haditskan kepadaku.Lalu beliau berkata:“Barakallahu fiik (semoga Allah memberkahimu).Datanglah besok ke majlisku.‘Ternyata beliau adalah Amir bin Dinar.”(Ushul Hadits,’Ajjaj Al Khatib, hal16).)

Hijrah Masa Kanak-kanak Salafus Shalih Untuk Mencari Hadits

Al Khatib Al Baghdadi menyebutkan tentang permintaan bapaknya Ali bin Ashim kepada Ali bin Ashim, beliau berkata:“Bapakku memberiku uang seratus ribu dirham seraya berkata:‘pergilah kamu,saya tidak ingin melihatmu lagi kecuali jika kamu telah membawa seratus ribu hadits.’”

Ali binAshim menceritakan pengalamannya mencari hadits: “Saya keluar dari kota Wasith menuju Kufah bersama Hasyim untuk bertemu Manshur. Ketika telah berjalan beberapa mil ,aku berjumpa Mu’awiyah.Lalu aku bertanya: ‘Mau kemana kamu? ‘Ia menjawab : ‘Saya mau mencari uang untuk menutup hutang.’Aku berkata:‘Pulanglah denganku aku punya uang empat ribu dirham, aku akan berikan kamu sebagian.‘Maka aku pulang kembali ke Wasith dan aku berikan padanya dua ribu dirham.Kemudian aku pergi lagi ke Kufah.Ternyata Hasyim telah sampai terlebih dulu di Kufah pada waktu pagi, sedang kan aku tiba di sana pada waktu sore.Shasyim telah pergi menemui Manshur dan mendengar empaat puluh hadits darinya.Sementara itu aku  bermalam lebih dahulu.Setelah pagi aku pun berjalan menemui Manshur,ketika sampai di pintunya,tiba-tiba di sana ada jenazah.Aku pun bertanya:’Siapakah ini?’Orang-orang menjawab:’Ini jenazah Manshur.’Aku pun terduduk dan menangis.Kemudian ada seorang syaikh yang datang kepadaku:’Hai pemuda,mengapa kamu menangis?’Aku menjawab: ‘Saya ke sini untuk mendengar hadits dari syaikh Manshur,tetapi ia telah mati.’Syaikh itu berkata:’Bagaimana kalau kamu saya tunjukkan orang yang menceritakan hadits?’Ya!’Ia berkata:’Tulislah,telah menceritaakan kepadaku Ikrimah dari Ibnu Abbas….’Maka aku menulis hadits dari syaikh tersebut selama satu bulan,setelah itu aku bertanya:’Siapakah anda rahimakallah?’Beliau menjawab:’Kamu telah menulis hadits dari saya selama sebulan sedang kamu belum tahu siapa saya? Saya adalah Hushain bin Abd Rahman.’”

Anak-anak Perempuan Menghafal Hadits

Az Zubaidi berkata:”Adalah seorang perempuan,anaknya Imam Malik bin Anas,hafal akan ilmunya yakni Al Muwaththa’.Anak ini sering berada di belakang pintu,jika ada seorang murid Imam Malik salah,ia akan mengetok –ketok pintu sehingga Imam Malik mengetahui kesalahannya,maka beliau pun membetulkannya.”

Tentang Menghafal Qur’an dan Memaaminya

Para Shahabat radhiallahu ‘anhum memberi nasehat agar anak-anak kecil di bina,dibentuk dan dikondisikan untuk cinta membaca Al-Qur’an

Ibnu Katsir dalam Fadha’ilul Qur’an menyebutkan masa kecil Ibnu Abbas pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dengan senang hati Ibnu Abbas berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat ketika aku berumur 10 tahun,dan aku telah membaca Al-Muhkam (Al-Qur’an).”

Contoh anak-anak salafus shalih yang hafal dan belajar Qur’an:

  1. Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an ketika berumur tujuh tahun dan hafal Muwaththa’ Imam Malik ketika berumur 10 tahun
  2. Ibrahim bin Sa’id Al Jauhari berkata: “Saya melihat seorang anak kecil berumur 4 tahun di bawa ke Al Makmun,ia bisa membaca Al-Qur’an,hanya saja kalau lapar ia menangis.”
  3. Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahaman Al Ashbahani,hafal Al-Qur’an ketika berumur lima tahun.

Demikianlah,semoga
Allah senantiasa membimbing kita untuk dapat mengikuti jejak serta semangat salafuna ash shalih radhiallahu ‘anhum ajma’in

Ahmad Faiz

 

Sumber: Buletin Dakwah An Nur “meniti Pribadi Muslim Istiqamah”     AN NUR Thn. IV /No.138/Jum’at IV /Shafar 1419 H.
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Renungan & Nasehat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s