TARBIYAH MASA KECIL KAUM SALAF

Salah satu faktor bagi baiknya generasi  awal (baca:salaf) adalah pendidikan. Sejak dini, mereka telah mendidik putra-putrinya berdisiplin dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. Tak mengherankan jika kemudian Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an pada usia 7 tahun. Dan masih banyak lagi contoh lain. Umat Islam saat ini juga mampu mencetak generasi tangguh dalam ilmu dan amalnya jika meneladani bagaimana para salaf mendidik putra putrinya sejak kecil. Benarlah kata Imam Malik Rahimahullah: “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah baik pada generasi awalnya. “ Tulisan Berikut mengetengahkan beberapa fenomena dan teladan pendidikan kaum salaf kepada anak-anaknya di usia dini.

Penanaman Kalimat Tauhid

Sejarah mencatat, anak kecil pertama yang masuk Islam adalah Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Renungan & Nasehat | Meninggalkan komentar

Lima Kisah Hidup Kembali Setelah Mati Dalam Al-Qur’an

بسم الله الرحمن الرحيم

Suatu perkara yang wajib diimani dan tidak boleh diragukan adalah kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali makhluk yang telah mati. Pada tulisan kali ini, kami akan menyebutkan lima kisah tentang hidupnya kembali seseorang atau suatu kaum setelah diwafatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang disebutkan di dalam surat Al Baqarah.

1. Kisah tujuh puluh orang umat Nabi Musa ‘alaihis salam mati tersambar petir.

Kejadian ini terjadi ketika sebagian umat Nabi Musa ‘alaihis salam yang berjumlah tujuh puluh orang menuntut kepada beliau agar dapat menunjukkan wujudnya Allah ta’ala kepada mereka secara jelas dan terang. Jika Musa tidak mampu untuk memenuhi permintaan mereka tersebut, maka mereka tidak bersedia untuk beriman kepada Musa. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Renungan & Nasehat | Tag | Meninggalkan komentar

Riba Haram dalam Segala Keadaan, Benarkah?

Apakah setiap riba dalam bentuk apapun pasti diharamkan secara mutlak atas kedua belah pihak (pemberi piutang/rentenir dan yang berhutang)? Ataukah hanya diharamkan atas rentenir saja, sedangkan yang berhutang terbebas? Dan bila yang berhutang tidak berdosa, apakah hal ini hanya bila sedang membutuhkan kepada piutang saja, terjepit dan kemiskinan, ataukah kebutuhan tidak menjadi persyaratan bagi bolehnya berhutang dengan membayar riba? Bila dibolehkan bagi orang yang membutuhkan/terjepit, apakah bagi orang yang kebutuhannya tidak terlalu mendesak boleh untuk berhutang dari bank yang bertransaksi dengan bunga/riba 15 % setiap tahun –misalnya-. Dengan demikian, ia dapat berusaha dengan modal uang hutang tersebut, dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar dari bunga/riba yang ditetapkan, misalnya keuntungannya sebesar 50 % setiap tahun. Dengan cara ini, berarti ia berhasil memperoleh hasil dari piutang tersebut sebesar 35 % yang merupakan sisa keuntungan dikurangi bunga yang ditetapkan, sebagaimana pada kasus yang dicontohkan, ataukah riba tetap tidak boleh dengan cara apapun? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Hukum, Renungan & Nasehat | Tag , | Meninggalkan komentar

Hukum Wig (Rambut Palsu)

 Wig adalah rambut palsu

Asy-Syaikh Al Utsaimin ditanya tentang hal ini, maka beliau menjawab : Rambut palsu itu haram dan termasuk dalam hukum menyambung rambut walaupun tidak berupa sambungan, maka rambut palsu ini membuat rambut wanita tampak lebih panjang dari yang sebenarnya. Dan hal ini serupa dengan menyambung rambut. Dan Rosululloh melaknat wanita-wanita yang menyambung rambut dan wanita-wanita yang minta disambung rambutnya. Akan tetapi jika pada asalnya wanita itu tidak memiliki rambut atau mengalami kebotakan maka tidak mengapa penggunaan rambut palsu tersebut untuk menutupi aibnya, karena menghilangkan aib itu diperbolehkan. Oleh karena itu Rosululloh memperbolehkan bagi orang yang terpotong hidungnya disalah satu peperangan untuk membuat hidung dari emas.

(FATAWA ZIINAH WA TAJMIL AN-NISA ABI ANAS Hal.23)

Ditanyakan kepada Asy-Syaikh Al Utsaimin –Hafidzohulloh-bahwa di Amerika berhasil dilakukan penanaman rambut bagi orang-orang yang mengalami kebotakan,dan hal itu dilakukan dengan mengambil rambut bagian belakang kepala kemudian ditanam dibagian yang mengalami kebotakan,apakah hal ini diperbolehkan ? Maka beliau menjawab :

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Hukum, Muslimah, Renungan & Nasehat | Tag , | Meninggalkan komentar